Home » Berita » Berita Desa » Ritual Adat Pembangunan Gedung/Bangunan

Ritual Adat Pembangunan Gedung/Bangunan

Oleh

Deni Trius

desabenuang.com– Sebelum membangun gedung/bangunan atau yang di kenal dengan “Batumuk Tihakng”, masyarakat Dayak Kanayatn di Desa Benuang Kec. Toho, Kab. Mempawah, Kalimantan Barat, akan melakukan ritual adat yang disebut Nyangahatn.

Gbr. 1, Ritual Adat Nyagahat Pembangunan Gedung Sanggar, (Doc. 3 Des 2024).

Nyangahatn adalah bentuk ucapan syukur dan permohonan kepada Jubata, Tuhan bagi suku Dayak Kanayatn, serta bentuk penghormatan terhadap alam dan leluhur.Ritual Nyangahatn dilakukan oleh Panyangahatn, seorang yang memahami seluk beluk adat istiadat, dan melibatkan berbagai peralatan ritual seperti ayam kampung, kapur, sirih, air, dan lain-lain. Doa-doa lisan yang dilantunkan oleh Panyangahatn berisi permohonan agar pembangunan berjalan lancar dan mendapatkan berkah, serta ucapan syukur atas karunia alam. Nyangahatn tidak hanya dilakukan sebelum pembangunan gedung atau rumah, tetapi juga pada berbagai acara penting lainnya seperti ucapan syukur pernikahan, pindah rumah, dan kelahiran anak. Ritual ini merupakan salah satu upaya untuk melestarikan warisan budaya leluhur dan memelihara hubungan spiritual dengan alam dan Jubata.

Gbr. 2, Ritual Adat Nyagahat Pembangunan Gedung Sanggar, (Doc. 3 Des 2024).

Adat Batumuk Tihakng yang dilakukan sebelum memulai pembangunan. Adat ini juga merupakan bagian dari Adat Talino Masyarakat Adat Dayak Kanayatn dan bertujuan untuk meminta izin dan restu dari alam serta leluhur sebelum memulai pembangunan. Adat ini juga merupakan bagian dari Adat Talino Masyarakat Adat Dayak Kanayatn dan bertujuan untuk meminta izin dan restu dari alam serta leluhur sebelum memulai pembangunan.

Gbr. 3, Ritual Adat Nyagahat Pembangunan Gedung Sanggar, (Doc. 3 Des 2024).

Masyarakat Adat menganggap bahwa nyangahatn bukanlah penyembahan berhala apalagi animisme, tetapi merupakan cara berdoa. Mereka percaya ada dua kekuatan:
(1) Pelindung, pembawa rejeki, sumber kekuatan dari Jubata (Tuhan) Ne’ Patampa’ Yang Mahakuasa, dan (2) pembawa malapetaka, penyakit atau bencana alam.
Dengan sastra lisan tersebut manusia menyadari dirinya harus berserah dan memohon perlindungan Yang Maha Kuasa, Sang Pemilik Langit dan bumi ini Jubata (Tuhan).

Share:

Tinggalkan komentar